Rindam, Jungle and Sea Survival

IMG_1273

Akhirnya hari keberangkatan kita pun tiba, dari jumlah total batch XI yang harusnya 22 orang, yang diberangkatkan hanya 17 orang, karena 5 orang berikutnya belum menyelesaikan proses seleksi baik BIFA maupun Garuda Indonesia. Dari mulai berangkat kita udah menemui sedikit masalah dimana gak semua baggage kita bisa masuk, Karena telat Check in. sampai akhirnya kita jadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat.

Sampai di Bali, kita udah dijemput Senior, sempet heboh2 bentar karena tiba2 ada Farah Quinn lewat depan kita haha. Dari Ngurah Rai, kita langsung dianterin ke Rindam IX Udayana di Tabanan, selama perjalanan kita dikasih makan KF*. Kata senior nikmatin makanannya, udah ga bakal bisa lagi nikmatin makan enak kayak gitu sampe beberapa waktu kedepan, awalnya Cuma senyum aja ternyata kenyataan.

Sampe di Rindam, kita cuma dikasih waktu buat naro barang setelah itu ‘neraka’ langsung dimulai, mulai dari pengambilan perlatan yang akan digunakan selama di rindam yang beratnya minta ampun dan langsung diangkut ke barak, waktu yang dikasih terbatas, alhasil yang telat keluar dari barak langsung kena sabet dari pelatih lalu dilanjutkan dengan kita yang disuruh jalan jongkok dari lapangan apel sampe ke pos kesehatan dimana kesehatan kita diperiksa, layak atau gak-nya kita mengikuti kegiatan rindam selama 10 hari yang tentunya akan sangat menguras fisik. Setelah itu kita hanya diberi pelatihan untuk melaksanakan upacara pembukaan. Praktis hari itu kita lewatkan untuk gladi upacara pembukaan dan pemberian pengarahan apa yang harus kita lakukan selama di rindam, intinya di Rindam kita akan diperlakukan semi militer untuk pembinaan mental dan disiplin sebagai calon penerbang. Satu hal yang pasti dirindam ditanya apapun Cuma ada satu jawaban yaitu “siap” mau disuruh pindahin gunung juga jawab “siap” dulu aja, masalah gimana caranya belakangan.

Dihari pertama rindam kita udah mulai dibiasakan sama kegiatan2 rutinitas rindam yaitu bangun jam 4 pagi untuk senam pagi, dilanjutkan dengan Sholat dan makan. Setelah itu dilaksanakanlah yang namanya acara orientasi, yang sangat amat melelahkan dimulai dari senam pemanasan, dimana kita harus lari ke pos yang tersedia setiap bunyi sirene, lalu balik lagi dan tiarap begitu denger sirene berikutnya, diikuti, dengan kegiatan jalan jongkok sepanjang setengah lapangan bola yang bikin betis rasanya mau copot, penderitaan belum berakhir setelah itu kita disuruh merangkak, dan merayap dengan jarak yang sama, dan waktu dibatasin yang telat pasti kena hukuman. Dan yang paling parah adalah abis itu kita disuruh berguling dengan jarak yang sama ini rasanya kayak mabok, pas fase ini salah satu temen kita ada yang gak kuat dan hampir pingsan, saya sendiri rasanya muntah udah diujung kerongkongan, lagi memulihkan kondisi tiba2 langsung disuruh baris lagi. Dan melanjutkan kegiatan. Dengan lari ngelilingin kampung sekitar mungkin jaraknya ada 5km, ditengah jalan tiba2 kita disuruh nyebur diempang tiduran dan merayap. Walaupun berat tapi saking capeknya aliran air empang ini berasa kayak dibody massage. Pokoknya hari pertama adalah hari yang sangat melelahkan katanya untuk membina fisik kita selama 9 hari kedepan.

Dihari2 berikutnya gw kira kita akan mulai terbiasa dengan pola hidup Rindam, bukannya malah terbiasa ternyata penderitaan semakin bertambah, bisa dibayangin kita baru bisa tidur sekitar jam 11 atau jam 12, itu pun kalo ga kepotong Jaga serambi, dimana kita secara bergantian harus berjaga sendirian selama satu jam di Barrack tanpa boleh ketiduran, kalo sampe ketahuan ketiduran akan disuruh merayap di air ditengah malam. Dan jam 4 udah bangun, dilanjutkan dengan kegiatan terus menerus yang menguras fisik dan mental, sampe malem. Begitu terus menerus tiap hari. Dihari ke-4

Kegiatannya pun macem2 dari mulai pelajaran baris berbaris, di siang bolong dibawah sinar matahari, tanpa menggunakan baju, sampe berjam2. Dan disuruh push up sedangkan aspalnya panasnya minta ampun, jadilah telapak tangan rasanya kayak dibakar. Pelajaran baris-berbaris ini bikin hampir semua di angkatan kita kulitnya kebakar yang bahkan bersentuhan sama baju pun jadi perih. Ada juga Binsik atau binaan fisik dimana kita disuruh senam dan lari keliling lapangan bola 3x sebelum makan siang, dimana matahari lagi nyolot2nya. Katanya biar kita makannya lahap, walaupun dengan menu seadanya. Yang namanya push up sit up merayap merangkak, udah jadi menu wajib kita hampir tiap hari, bahkan sampe divariasikan jadi merayap gaya Komodo oleh pelatih.

Disiang hari kita diwajibkan ngikutin kelas, dan kita dilarang keras buat tidur walaupun itu ngantuk udah ditahap mustahil ditahan, dan tidur 1menit pun rasanya berharga banget. Namun di hari keempat kita udah mulai kebiasa dengan kegiatan2 di Rindam, personil kita pun udah nambah dimana 4 orang udah bisa nyusul kita pada hari ketiga, mereka dihari pertama ga boleh tidur di Barrack alias disuruh berkemah di lapangan, dengan keadaan hujan. Bisa dibayangin deh dinginnya.  sempat ada kejadian unik dimana lebih dari setengah dari kami mengalami Diare, entah karena salah makan entah karena apa, jadilah kita semua rebutan kamar mandi, sampe kita semua akhirnya diperiksa oleh medis.

Mulai hari kelima kegiatan udah mulai terasa seru, kita lebih banyak melakukan kegiatan2 seru, seperti turun tebing, merayap di tali, dan juga persiapan untuk jungle & sea survival. Di malam harinya kita ada kegiatan caraka malam, dimana kita diberi pesan dan disuruh hapalkan dan kita harus menyampaikan pesan tersebut menyusuri hutan melewati beberapa pos dengan berbagai gangguan dan harus selamat sampai di pos terkahir tanpa membocorkan pesan tersebut, dan pesan yang kita sampaikan harus benar dan lengkap tanpa kurang satu kata pun. Di tengah jalan kita ketemu berbagai halangan dari jalan yang gelap, hantu2an, jebakan, sampe terror mental dari para pelatih, kita pun diwajibkan menyamar, agar sulit dikenali.

Satu hari menjelang jungle and sea survival, akhirnya jumlah kita jadi lengkap, dimana siswa terakhir akhirnya menyelesaikan semua tahapan tes, dan bisa menyusul kita. Dan tibalah hari yang ditunggu2 yaitu jungle and sea survival. Kita berangkat ke Hutan yang kira2 3 jam perjalanan dari Rindam namun ga terlalu jauh dari kampus. Kita disuruh membuat tenda, dan mencari bahan makanan di hutan. Dengan peralatan seadanya, dan ada juga acara makan ular, yang kita bunuh dan kulitin sendiri. Seumur hidup baru sekali nyentuh ular dan itu pun langsung dimakan. Sempat ada juga kunjungan dari para senior dari batch 8, 9 dan 10 ke hutan untuk memberi kita pengarahan. Malamnya ditetapkan giliran jaga malam per tenda, untuk menjaga dari ancaman binatang buas, ataupun bahaya banjir.

Paginya kita langsung berkemas untuk melanjutkan kegiatan IMPK (Ilmu Medan Peta Kompas), namun sebelum pergi ada ritual merayap, jalan jongkok,dll dulu dari komandan rindam, karena kita ketahuan tidak menghabiskan makanan yang didapat dihutan dengan susah payah, kita dianggap manja. Jadilah badan lecet semua akibat merayap di aspal.

Nah kegiatan IMPK ini sebenarnya seru kalo ga terjadi insiden. Jadi kita dibagi2 per kelompok berjumlah 2-3 orang per kelompok, masing2 kelompok diberi Kompas, peta, dan koordinat, dimana kita harus menghitung koordinat yang diberikan menggunakan plotter dan menentukan titiknya di peta. Lalu cari koordinat tersebut untuk mendapatkan koordinat berikutnya. Totalnya ada 5 koordinat jarak per koordinat sekitar 2-4km, dan medannya melewati perkampungan, perkebunan, sawah, sampe sungai.

Awalnya semua ga ada masalah, walaupun sempet ada beberapa kelompok yang nyasar, Cuma akhirnya bisa nemuin koordinatnya. Sampe di koordinat terakhir dimana kita harus mendaki gunung. Ada 2 kelompok yang lebih dulu sampe di koordinat keempat, dan mereka langsung melanjutkan perjalanan mencari koordinat kelima dengan menaiki gunung. Kelompok lain yang telat akhirnya berangkat berbarengan yang juga ditemenin oleh para pelatih, Karena medan gunung yang cukup susah untuk ditempuh, ditengah perjalanan satu orang dari kita udah ga sanggup melanjutkan perjalanan karena kehabisan stamina, sehingga harus dibantu dan dipapah sama yang lain. Terus terang saat itu saya pun udah ga punya stamina lagi, jalan hanya bermodalkan semangat aja, Karen oleh pelatih kita disuruh terus nyanyi biar tetap semangat.

Setelah mendaki 2 gunung, kita mulai menuruni gunung yang ternyata lebih susah daripada naik, walaupun lebih ga nguras stamina, cuman para pelatih mulai merasa ada yang ganjil, saat mereka ga menemukan jejak 2 kelompok yang lebih dulu berangkat, mereka nanya warga sekitar yang lagi berkebun, liat 6 orang lewat sini ga, dan semuanya jawab ga, dan begitu mengecek  dengan pelatih lain menggunakan walkie talkie pun ga ada yang melihat keberadaan 6 orang ini.

Akhirnya Komandan Rindam, mengutus beberapa pelatih, untuk menyebar mencari 6 orang teman kita yang hilang, ga lama setelah sekitar 30 menit ada kontak dari salah satu pelatih I Kadek Parsa ke Komandan yang katanya udah menemukan 6 orang teman kita. Ga lama setelah kita sampai di titik terakhir 6 orang teman kita akhirnya sampai dengan naik motor dan mobil dibonceng para pelatih. Pas kita diceritain ternyata, setelah gunung kedua mereka ga berbelok dan mulai turun, melainkan melanjutkan naik ke gunung ketiga bahkan sampai yang keempat sampe akhirnya mereka ketemu jurang dan akhirnya mereka sadar bahwa mereka pasti salah jalan.

Disaat itu mereka udah kehabisan minum, dan semuanya udah kehabisan tenaga total, konon katanya sampe berdiri pun langsung jatuh lagi, mereka yang udah kehilangan semangat, pasrah berharap ada bantuan. Dan akhirnya salah satu dari mereka Mas Rodin mutusin untuk menghimpun sisa tenaganya buat balik keatas mencari bantuan, dan untungnya setelah jalan beberapa lama, Rodin ketemu salah satu pelatih kita yaitu pelatih Parsa yang kebetulan juga ditemenin pelatih medis yang saat itu bawa air, akhirnya Rodin, menceritakan bahwa yang lain, udah ga kuat dan ada dibawah.

Pelatih Parsa pun langsung menuju kebawah membantu 5 orang yang udah hampir pingsan karena kehabisan stamina dan dehidrasi, salah satunya bahkan sampai harus diberi masker oksigen, akhirnya setelah dapat minum mereka melanjutkan perjalanan mereka, namun pelatih Parsa yang membawa semua barang bawaan mereka, yang satu aja rasanya membebani banget. Salut buat pelatih Parsa yang sampe naik turun gunung 4x sambil lari dan bawa barang, namun staminanya tetap terjaga. Beda sama kita yang Cuma satu kali rasanya kayak udah mau pingsan, jadi ada rasa kagum sekaligus bangga akan TNI kita yang ternyata luar biasa.

Malamnya acara kita adalah survival di Rawa laut, dengan membuat tempat tidur diatas pohon bakau ditepi laut, yang susahnya minta ampun, belum lagi harus jaga malam, dan sekali naik udah susah lagi buat turun. Dan pas tidur bangun2 hampir semuanya kesemutan dan keram, karena tidur satu gaya karena takut jatuh.

Paginya kita langsung berangkat ke laut untuk survival hari terakhir yaitu Sea Survival. Jadi kita disuruh mendayung ke tengah laut, diawali dengan ngangkat si perahu yang beratnya konon hampir 200kg ke pinggiran lalu baru mulai naik dan mendayung, nah dayungnya aja lumayan susah, karena butuh kekompakan, kalo ga kompak alamat perahunya akan muter2 ditempat. Sampe ditengah kita disuruh dayung balik ke pinggiran namun ditengah jalan, ceritanya ada serangan dari udara, sehingga semuanya  harus nyebur ke laut dan perahu akan dibalik dan kita ngumpet di dalam perahu yang udah dibalik sehingga tetep bisa bernapas. Setelah itu kita disuruh berenang kepinggiran, yang jaraknya lumayan jadi capek juga plus asin dimulut dan mata jadi pedih. Setelah itu ada beberapa kegiatan, dan akhirnya kita pulang lagi ke Rindam, setelah bersih2 perlatan yang kita pake selama Survival. Akhirnya kita bisa tidur nyenyak.

Besoknya kita menjalani upacara penutupan yang berarti selesai juga pendidikan kilat yang terasa panjang di Rindam, dan setelah itu langsung naik bus untuk menuju ke BIFA. Jadi sedih juga meninggalkan Rindam, Karena udah kebiasa dan juga udah deket sama para pelatih yang walaupun pada galak ternyata mereka sayang sama kita, beberapa dari kita ada yang nangis, bahkan salah satu pelatih juga ada yang matanya berkaca-kaca pas perpisahan. Selamat Tinggal Rindam! 10 hari yang sangat berharga.

Tags: , , , ,

About BIFA XI

we're future Garuda Indonesia Pilot, Currently studying at Bali International Flight Academy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: