Rindam, Jungle and Sea Survival

IMG_1273

Akhirnya hari keberangkatan kita pun tiba, dari jumlah total batch XI yang harusnya 22 orang, yang diberangkatkan hanya 17 orang, karena 5 orang berikutnya belum menyelesaikan proses seleksi baik BIFA maupun Garuda Indonesia. Dari mulai berangkat kita udah menemui sedikit masalah dimana gak semua baggage kita bisa masuk, Karena telat Check in. sampai akhirnya kita jadi penumpang terakhir yang masuk ke pesawat.

Sampai di Bali, kita udah dijemput Senior, sempet heboh2 bentar karena tiba2 ada Farah Quinn lewat depan kita haha. Dari Ngurah Rai, kita langsung dianterin ke Rindam IX Udayana di Tabanan, selama perjalanan kita dikasih makan KF*. Kata senior nikmatin makanannya, udah ga bakal bisa lagi nikmatin makan enak kayak gitu sampe beberapa waktu kedepan, awalnya Cuma senyum aja ternyata kenyataan.

Sampe di Rindam, kita cuma dikasih waktu buat naro barang setelah itu ‘neraka’ langsung dimulai, mulai dari pengambilan perlatan yang akan digunakan selama di rindam yang beratnya minta ampun dan langsung diangkut ke barak, waktu yang dikasih terbatas, alhasil yang telat keluar dari barak langsung kena sabet dari pelatih lalu dilanjutkan dengan kita yang disuruh jalan jongkok dari lapangan apel sampe ke pos kesehatan dimana kesehatan kita diperiksa, layak atau gak-nya kita mengikuti kegiatan rindam selama 10 hari yang tentunya akan sangat menguras fisik. Setelah itu kita hanya diberi pelatihan untuk melaksanakan upacara pembukaan. Praktis hari itu kita lewatkan untuk gladi upacara pembukaan dan pemberian pengarahan apa yang harus kita lakukan selama di rindam, intinya di Rindam kita akan diperlakukan semi militer untuk pembinaan mental dan disiplin sebagai calon penerbang. Satu hal yang pasti dirindam ditanya apapun Cuma ada satu jawaban yaitu “siap” mau disuruh pindahin gunung juga jawab “siap” dulu aja, masalah gimana caranya belakangan.

Dihari pertama rindam kita udah mulai dibiasakan sama kegiatan2 rutinitas rindam yaitu bangun jam 4 pagi untuk senam pagi, dilanjutkan dengan Sholat dan makan. Setelah itu dilaksanakanlah yang namanya acara orientasi, yang sangat amat melelahkan dimulai dari senam pemanasan, dimana kita harus lari ke pos yang tersedia setiap bunyi sirene, lalu balik lagi dan tiarap begitu denger sirene berikutnya, diikuti, dengan kegiatan jalan jongkok sepanjang setengah lapangan bola yang bikin betis rasanya mau copot, penderitaan belum berakhir setelah itu kita disuruh merangkak, dan merayap dengan jarak yang sama, dan waktu dibatasin yang telat pasti kena hukuman. Dan yang paling parah adalah abis itu kita disuruh berguling dengan jarak yang sama ini rasanya kayak mabok, pas fase ini salah satu temen kita ada yang gak kuat dan hampir pingsan, saya sendiri rasanya muntah udah diujung kerongkongan, lagi memulihkan kondisi tiba2 langsung disuruh baris lagi. Dan melanjutkan kegiatan. Dengan lari ngelilingin kampung sekitar mungkin jaraknya ada 5km, ditengah jalan tiba2 kita disuruh nyebur diempang tiduran dan merayap. Walaupun berat tapi saking capeknya aliran air empang ini berasa kayak dibody massage. Pokoknya hari pertama adalah hari yang sangat melelahkan katanya untuk membina fisik kita selama 9 hari kedepan.

Dihari2 berikutnya gw kira kita akan mulai terbiasa dengan pola hidup Rindam, bukannya malah terbiasa ternyata penderitaan semakin bertambah, bisa dibayangin kita baru bisa tidur sekitar jam 11 atau jam 12, itu pun kalo ga kepotong Jaga serambi, dimana kita secara bergantian harus berjaga sendirian selama satu jam di Barrack tanpa boleh ketiduran, kalo sampe ketahuan ketiduran akan disuruh merayap di air ditengah malam. Dan jam 4 udah bangun, dilanjutkan dengan kegiatan terus menerus yang menguras fisik dan mental, sampe malem. Begitu terus menerus tiap hari. Dihari ke-4

Kegiatannya pun macem2 dari mulai pelajaran baris berbaris, di siang bolong dibawah sinar matahari, tanpa menggunakan baju, sampe berjam2. Dan disuruh push up sedangkan aspalnya panasnya minta ampun, jadilah telapak tangan rasanya kayak dibakar. Pelajaran baris-berbaris ini bikin hampir semua di angkatan kita kulitnya kebakar yang bahkan bersentuhan sama baju pun jadi perih. Ada juga Binsik atau binaan fisik dimana kita disuruh senam dan lari keliling lapangan bola 3x sebelum makan siang, dimana matahari lagi nyolot2nya. Katanya biar kita makannya lahap, walaupun dengan menu seadanya. Yang namanya push up sit up merayap merangkak, udah jadi menu wajib kita hampir tiap hari, bahkan sampe divariasikan jadi merayap gaya Komodo oleh pelatih.

Disiang hari kita diwajibkan ngikutin kelas, dan kita dilarang keras buat tidur walaupun itu ngantuk udah ditahap mustahil ditahan, dan tidur 1menit pun rasanya berharga banget. Namun di hari keempat kita udah mulai kebiasa dengan kegiatan2 di Rindam, personil kita pun udah nambah dimana 4 orang udah bisa nyusul kita pada hari ketiga, mereka dihari pertama ga boleh tidur di Barrack alias disuruh berkemah di lapangan, dengan keadaan hujan. Bisa dibayangin deh dinginnya.  sempat ada kejadian unik dimana lebih dari setengah dari kami mengalami Diare, entah karena salah makan entah karena apa, jadilah kita semua rebutan kamar mandi, sampe kita semua akhirnya diperiksa oleh medis.

Mulai hari kelima kegiatan udah mulai terasa seru, kita lebih banyak melakukan kegiatan2 seru, seperti turun tebing, merayap di tali, dan juga persiapan untuk jungle & sea survival. Di malam harinya kita ada kegiatan caraka malam, dimana kita diberi pesan dan disuruh hapalkan dan kita harus menyampaikan pesan tersebut menyusuri hutan melewati beberapa pos dengan berbagai gangguan dan harus selamat sampai di pos terkahir tanpa membocorkan pesan tersebut, dan pesan yang kita sampaikan harus benar dan lengkap tanpa kurang satu kata pun. Di tengah jalan kita ketemu berbagai halangan dari jalan yang gelap, hantu2an, jebakan, sampe terror mental dari para pelatih, kita pun diwajibkan menyamar, agar sulit dikenali.

Satu hari menjelang jungle and sea survival, akhirnya jumlah kita jadi lengkap, dimana siswa terakhir akhirnya menyelesaikan semua tahapan tes, dan bisa menyusul kita. Dan tibalah hari yang ditunggu2 yaitu jungle and sea survival. Kita berangkat ke Hutan yang kira2 3 jam perjalanan dari Rindam namun ga terlalu jauh dari kampus. Kita disuruh membuat tenda, dan mencari bahan makanan di hutan. Dengan peralatan seadanya, dan ada juga acara makan ular, yang kita bunuh dan kulitin sendiri. Seumur hidup baru sekali nyentuh ular dan itu pun langsung dimakan. Sempat ada juga kunjungan dari para senior dari batch 8, 9 dan 10 ke hutan untuk memberi kita pengarahan. Malamnya ditetapkan giliran jaga malam per tenda, untuk menjaga dari ancaman binatang buas, ataupun bahaya banjir.

Paginya kita langsung berkemas untuk melanjutkan kegiatan IMPK (Ilmu Medan Peta Kompas), namun sebelum pergi ada ritual merayap, jalan jongkok,dll dulu dari komandan rindam, karena kita ketahuan tidak menghabiskan makanan yang didapat dihutan dengan susah payah, kita dianggap manja. Jadilah badan lecet semua akibat merayap di aspal.

Nah kegiatan IMPK ini sebenarnya seru kalo ga terjadi insiden. Jadi kita dibagi2 per kelompok berjumlah 2-3 orang per kelompok, masing2 kelompok diberi Kompas, peta, dan koordinat, dimana kita harus menghitung koordinat yang diberikan menggunakan plotter dan menentukan titiknya di peta. Lalu cari koordinat tersebut untuk mendapatkan koordinat berikutnya. Totalnya ada 5 koordinat jarak per koordinat sekitar 2-4km, dan medannya melewati perkampungan, perkebunan, sawah, sampe sungai.

Awalnya semua ga ada masalah, walaupun sempet ada beberapa kelompok yang nyasar, Cuma akhirnya bisa nemuin koordinatnya. Sampe di koordinat terakhir dimana kita harus mendaki gunung. Ada 2 kelompok yang lebih dulu sampe di koordinat keempat, dan mereka langsung melanjutkan perjalanan mencari koordinat kelima dengan menaiki gunung. Kelompok lain yang telat akhirnya berangkat berbarengan yang juga ditemenin oleh para pelatih, Karena medan gunung yang cukup susah untuk ditempuh, ditengah perjalanan satu orang dari kita udah ga sanggup melanjutkan perjalanan karena kehabisan stamina, sehingga harus dibantu dan dipapah sama yang lain. Terus terang saat itu saya pun udah ga punya stamina lagi, jalan hanya bermodalkan semangat aja, Karen oleh pelatih kita disuruh terus nyanyi biar tetap semangat.

Setelah mendaki 2 gunung, kita mulai menuruni gunung yang ternyata lebih susah daripada naik, walaupun lebih ga nguras stamina, cuman para pelatih mulai merasa ada yang ganjil, saat mereka ga menemukan jejak 2 kelompok yang lebih dulu berangkat, mereka nanya warga sekitar yang lagi berkebun, liat 6 orang lewat sini ga, dan semuanya jawab ga, dan begitu mengecek  dengan pelatih lain menggunakan walkie talkie pun ga ada yang melihat keberadaan 6 orang ini.

Akhirnya Komandan Rindam, mengutus beberapa pelatih, untuk menyebar mencari 6 orang teman kita yang hilang, ga lama setelah sekitar 30 menit ada kontak dari salah satu pelatih I Kadek Parsa ke Komandan yang katanya udah menemukan 6 orang teman kita. Ga lama setelah kita sampai di titik terakhir 6 orang teman kita akhirnya sampai dengan naik motor dan mobil dibonceng para pelatih. Pas kita diceritain ternyata, setelah gunung kedua mereka ga berbelok dan mulai turun, melainkan melanjutkan naik ke gunung ketiga bahkan sampai yang keempat sampe akhirnya mereka ketemu jurang dan akhirnya mereka sadar bahwa mereka pasti salah jalan.

Disaat itu mereka udah kehabisan minum, dan semuanya udah kehabisan tenaga total, konon katanya sampe berdiri pun langsung jatuh lagi, mereka yang udah kehilangan semangat, pasrah berharap ada bantuan. Dan akhirnya salah satu dari mereka Mas Rodin mutusin untuk menghimpun sisa tenaganya buat balik keatas mencari bantuan, dan untungnya setelah jalan beberapa lama, Rodin ketemu salah satu pelatih kita yaitu pelatih Parsa yang kebetulan juga ditemenin pelatih medis yang saat itu bawa air, akhirnya Rodin, menceritakan bahwa yang lain, udah ga kuat dan ada dibawah.

Pelatih Parsa pun langsung menuju kebawah membantu 5 orang yang udah hampir pingsan karena kehabisan stamina dan dehidrasi, salah satunya bahkan sampai harus diberi masker oksigen, akhirnya setelah dapat minum mereka melanjutkan perjalanan mereka, namun pelatih Parsa yang membawa semua barang bawaan mereka, yang satu aja rasanya membebani banget. Salut buat pelatih Parsa yang sampe naik turun gunung 4x sambil lari dan bawa barang, namun staminanya tetap terjaga. Beda sama kita yang Cuma satu kali rasanya kayak udah mau pingsan, jadi ada rasa kagum sekaligus bangga akan TNI kita yang ternyata luar biasa.

Malamnya acara kita adalah survival di Rawa laut, dengan membuat tempat tidur diatas pohon bakau ditepi laut, yang susahnya minta ampun, belum lagi harus jaga malam, dan sekali naik udah susah lagi buat turun. Dan pas tidur bangun2 hampir semuanya kesemutan dan keram, karena tidur satu gaya karena takut jatuh.

Paginya kita langsung berangkat ke laut untuk survival hari terakhir yaitu Sea Survival. Jadi kita disuruh mendayung ke tengah laut, diawali dengan ngangkat si perahu yang beratnya konon hampir 200kg ke pinggiran lalu baru mulai naik dan mendayung, nah dayungnya aja lumayan susah, karena butuh kekompakan, kalo ga kompak alamat perahunya akan muter2 ditempat. Sampe ditengah kita disuruh dayung balik ke pinggiran namun ditengah jalan, ceritanya ada serangan dari udara, sehingga semuanya  harus nyebur ke laut dan perahu akan dibalik dan kita ngumpet di dalam perahu yang udah dibalik sehingga tetep bisa bernapas. Setelah itu kita disuruh berenang kepinggiran, yang jaraknya lumayan jadi capek juga plus asin dimulut dan mata jadi pedih. Setelah itu ada beberapa kegiatan, dan akhirnya kita pulang lagi ke Rindam, setelah bersih2 perlatan yang kita pake selama Survival. Akhirnya kita bisa tidur nyenyak.

Besoknya kita menjalani upacara penutupan yang berarti selesai juga pendidikan kilat yang terasa panjang di Rindam, dan setelah itu langsung naik bus untuk menuju ke BIFA. Jadi sedih juga meninggalkan Rindam, Karena udah kebiasa dan juga udah deket sama para pelatih yang walaupun pada galak ternyata mereka sayang sama kita, beberapa dari kita ada yang nangis, bahkan salah satu pelatih juga ada yang matanya berkaca-kaca pas perpisahan. Selamat Tinggal Rindam! 10 hari yang sangat berharga.

Proses Tahapan Seleksi BIFA

Karena gw pernah merasakan gimana sulitnya dapet info tentang tes jadi penerbang, googling sana sini tapi Cuma ketemu info yang sangat minim, jadilah gw bikin tulisan ini buat temen2 yang mau ngejar cita2 jadi penerbang. Karena kebetulan gw menempuh pendidikannya di BIFA jadi gw mau coba share pengalaman gw test BIFA.

Medex

Dimulai dari Medex. Yang dilakukan di HatPen Kemayoran, disini kesehatan kita diuji semuanya. Item yang dicek :

  • Darah
  • Fisik
  • Urin
  • Gigi
  • Mata
  • Pendengaran
  • Rontgen

Jadi baru datang kita ke loket isi formulir, tinggal bilang tes medex buat calon penerbang nanti dikaish formnya. Abis itu balikin form-nya dan langsung ambil urin dan darah. Sambil kita nunggu hasil urin kita tes kelayakan fisik. Pindah diruangan lain, yang periksa dokter cewek cantik, pas gw masuk si dokter langsung kunci pintu, udah deg2an kirain mau diapain. Ga taunya kita suruh copot semua pakaian tinggal menyisakan boxer, dan diliat bentuk tubuh, timbang badan, dan tinggi badan, serta ditanya2in riwayat penyakir, serta riwayat kesehatan keluarga juga.

Selesai cek fisik naik keatas untuk Rontgen, seperti layakanya rontgen buka baju untuk di tulang belakang dan paru2. Selesai itu kita cek gigi, nah ini banyak yang sering nanya kalo ompong boleh ga? Kalo behelan boleh ga? Jawabannya BOLEH! Gigi gw yang ilang udah 5 biji dan gw pake behel, pokoknya asal ga ada yang bolong, kalo ada yang bolong ditambal dulu sebelum MedEx

Setelah itu kita cek Mata, kalo buat BIFA minus yang ditolerir Cuma sampe minus 0.5 dan buat yang minus bawa aja kacamatanya, gw bawa kacamata gw juga pas medex. Setelah itu kita tes lainnya yaitu mensejajarkan dua batang dengan tali dari jarak sekitar 2M, jadi buat yang silindris kayaknya susah. Abis itu tes pendengaran dimana, kita masuk box kecil, dan disuruh pake headset dan disuruh pencet tombol kalo denger bunyi, tapi bunyi yang muncul alus banget, cenderung susah terdengar kalo ga konsen.

Selesailah tes MedEx, hasilnya diambil besoknya. Tapi gw ada yang kurang yaitu Hb yang terlalu rendah dikasih resep dan disuruh kembali 2 minggu kemudian. Dan dinyatakan lulus, lalu dikaish surat pengantar buat EEG di Lakespra Cawang, besoknya.

Di Lakespra kita EEG, untuk dapet hasil yang baik katanya rambut sebaiknya pendek, dan keramas sebelum berangkat serta dilarang keras menggunakan Gel atau Wax. Nah disini kita dites otaknya ditempelin kabel2 lalu diliat melalui komputer pernah ada cedera otak atau ga. Tesnya ga lama, nunggunya yang lama. Hasilnya bisa diambil besoknya, setelah itu kembaliin hasilnya ke Hatpen dan dikasihlah kita sertifikat Medex.

Tes TOEIC

Tes Bahasa Inggris yang dilaksanakan di Plaza Sentral Sudirman. Tesnya menurut gw cenderung mudah, bahasa Inggris yang ditanyakan pun sangat dasar, buat yang pernah ikutan TOEFL ataupun IELTS dan punya passing grade yang lumayan, pasti bisa lulus, Karen TOEIC emang tingkat kesulitannya paling rendah, passing grade yang dibutuhkan pun Cuma 600. Satu2nya kendala adalah waktu pelaksanaan tes dan lokasi tes yang selalu macet. Jadi saran datangnya lebih awal biar ga telat.

E-Profilling Test

Ini Tes segala macem dari mulai psikologi, Akademis, Kepribadian, Bahasa Inggris, dll. Dilaksanakan di Komplek AURI di Halim. Pertama kita psikotes, tes ini sih tinggal jawab sejujur2nya tentang kepribadian masing2. Setelah itu disuruh gambar orang, saran dari gw, gambar gapapa jelek, yang penting garisnya tegas dan organ tubuh si orang yang digambar ada semua. Setelah itu kasih keterangan orang yang kita gambar itu siapa dan lagi ngapain. Selain itu lupa psikotesnya apalagi.

Setelah itu naik ke lantai 2 tes Bahasa Inggris, tesnya ga terlalu susah lebih ke Bahasa Inggris Dasar. Kalo udah selesai baru deh dimulai tes Fisika dan Matematika, dulu gw panic setengah mati sebelum ngadepin tes Fisika, soalnya dari lahir gw emang ga pernah simpati sama Fisika. Tapi ternyata tes Fisikanya ga terlalu susah lebih ke pemahaman dan Logika, kayak kalo mau gerakin naikin beban katrol mana yang harus ditarik, atau kalo mau seimbangin timbangan beban harus ditaro dimana. Pokoknya ga belajar-pun bisa asal logika jalan.

Nah yang rada susah adalah si Matematika, rinciannya 16 soal dilayar 10 soal kita dengerin sendiri, walaupun soalnya Cuma sebatas Matematika dasar, tapi Karena dipakein waktu jadi rada susah, kita disuruh menghitung dengan mendengarkan soalnya melalui Headset dan gak boleh pake coret2an, dan waktunya Cuma 15 detik dan didetik ke 10 akan bunyi tanda peringatan, nah ini yang biasanya bikin konsentrasi gw buyar, padahal udah mau ketemu hasilnya pas denger bunyi ‘nit’ buyarlah semua yang tadi udah keitung.

Ada juga tes aritmatik, soalnya tentang jarak, waktu tempuh, dan kecepatan. Yang penting paham sama Phytagoras dan tau perbedaan waktu WIB, WITA, WIT pasti bisa ngisi. Yang lainnya pertanyaan2 dasar seperti kegunaan perkakas,dll, gampanglah.

Setelah itu ada tes Simbol, yang penting disini kita konsentrasi perhatiin instruksinya, kalo inget instruksinya pasti bisa dapet nilai sempurna disini.

Nah sampailah di  3 tes terakhir inilah yang menurut gw paling sulit diantara semua E-profilling tes. Tes instrument Visual ini adalah tes kecepatan dan ketepatan Mata, jadi kita disuruh baca jam dan urutkan berdasarkan bentuknya dan warnanya, ada 9 jam yang muncul. Yang jadi masalah adalah si Jam tersebut hanya muncul 2 detik, dan angka yang diketahui di Jam Cuma 4 angka, dan posisinya pun random, kadang angka 12 ada di sudut 90 bukan 360. Jadi harus full konsentrasi, di tes ini gw purely tebak2an karena emang gak sempet baca, gw bertanya2 apakah bener ada orang yang bener2 bisa baca semua instrument ini.

Tes Visualisasi bangun ruang, juga cukup susah kita dikasih satu titik di sebuah kubus (bisa didepan, belakang, kiri, kanan, atas ataupun bawah) setelah itu kita dengarkan headset, nanti akan ada suara direksi kemana kubus  itu harus digulingkan (bisa kekiri,kanan,depan,belakang) jadi kita harus ngebayangin nanti akhirnya titik tersebut akan berada dimana akhirnya. Awalnya pelan lama2 suara tersebut akan kenceng banget, dan sampe 15 direksi kemana kubus itu harus digulingkan, sampe ga ada waktu buat ngebayangin akan berada dimana titik tersebut. Tips bawa penghapus buat jadi alat untuk bantu visualisasi, tapi jangan sampe ketahuan.

Terakhir adalah psikomotorik, ini kurang lebih sama kayak main Flight Simulator kalo yang pernah main pasti ga akan menemukan kesulitan, kita Cuma disuruh menyesuaikan altitude, speed dan heading, dan nanti suruh pencet tombol tertentu kalo denger angka tertentu. Yang penting adalah konsentrasi untuk multitasking, selain itu cari tempat duduk yang joysticknya enak. Btw di tes E-Profilling ini ga bisa ngulang kalo mau ngulang harus tunggu sampe batch berikutnya, karena ini menyangkut kejiwaan.

 

Tes NBO

Ini Tes tertulis kita yang terakhir, yang dites kurang lebih tentang kecerdasan atau IQ,  atau biasa diektahuin dengan Psikotes contoh Soal banya beredar di Internet atau toko buku. Soalnya seperti dikaish bangun ruang dan kita kalo bangunan itu dirotate sekian derajat bentuknya akan jadi seperti apa, atau soal seperti “A lebih tinggi dari B sedangkan C lebih pendek dari D dan C lebih tinggi dari A. siapakah yang palingg tinggi?” yang penting logika dan kecepeatan berpikir. Karena waktu untuk menjawab dibatasi.

Interview BIFA

Semenjak Batch XI Interview BIFA jadi salah satu tahapan tes yang wajib dilalui, sebelumnya hanya yang nilai tes sebelumnya patut ditinjau ulang yang harus melewati tahap ini. Gw ga ikut seleksi ini pas seleksi batch X karena udah mencukupi, Cuma berhubung gagal di interview user sata batch x. saat ngulang saat bath XI gw diwajibkan ikut seleksi ini. Dan prosesnya pun termausk unik karena saat itu gw gak dapet panggilan dari pihak BIFA, karena data gw ilang di computer BIFA, saat lagi kebetulan dating ke kantor BIFA mau nanya jadwal, barulah diberi tau kalo Interview udah berlangsung, dan hari itu interview BIFA  hari terakhir, setelah ngomong cukup lama, akhirnya gw dibolehkan ikut interview hari itu juga, tanpa preparasi apapun, karena gw dateng pake baju biasa, jadilah gw minjem kemeja dan dasi dari kandidat lain yang kebetulan juga sempet interview bareng gw saat seleksi batch X.

Didalam ruangan diinterview oleh Capt. Totong Sampoerno yang merupakan Quality control dari BIFA dan juga Capt. Herroejanto, pertanyaan yang ditanyakan seputar background kita, keseharian, motivasi jadi pilot, dan hobby. Nah dari situ pertanyaan akan dikembangin, jadi saran dari gw jangan jawab yang kalian ga tau. Selain itu juga ditanya itung2an standar kayak 12×12 15×15 atau 100 : 8 . juga phytagoras jarak, kecepatan dan waktu pokoknya inget s=v.t . walaupun disini ga ada lulus atau ga, tapi tahapan ini cukup penting karena menentukan cocok atau ga-nya kita jadi siswa BIFA ataupun jadi penerbang, nanti dari pihak bifa merekomendasikan ke Garuda sebagai pengetok palu lulus atau enggaknya kita.

Interview Garuda

Setelah selesai Interview BIFA kita akan dijadwalkan untuk interview Garuda yang dilaksanakan di Garuda Sentra Operasi di Komplek Bandara Soetta. Interview Garuda sendiri terbagi 2 hari, hari pertama adalah Competence Interview dimana interviewer kita adalah dari Bagian HRD Garuda, dan User Interview dimana interviewer kita adalah Tim User Garuda, yang berisi para Capt. Yang sudah berpengalaman.

Competence Interview

Di competence Interview kita akan berhadapan dengan HRD Garudah yang akan menilai cocok gak-nya kita jadi karyawan Garuda. Di seleksi batch X gw gagal di tahap ini, sekedar tips dari gw interview ini jangan jawab terlalu textbook seperti interview pada umumnya, tapi jawab aja sejujurnya berdasarkan pengalaman kalian. Pertanyaan akan dikembangin dari situ, pertanyaan kurang lebih tentang motivasi kita, tujuan kita jadi pilot, background dan juga pengalaman kita bagaimana dalam menghadapi situasi terdesak.

User Interview

Nah kalo ini pertanyaan yang keluar ga bisa diprediksi, waktu interview batch x gw ditanyain tentang rukun islam, rukun iman, waktu shuruq, sampe pemain Bola favorit gw. Ada juga temen yang masuk diceramahin doang dan langsung selesai. Yang jelas beberapa pertanyaan yang pasti muncul adalah disuruh ngitung rumus kecepetan, jarak, dan waktu selain itu sudut2 kompas dan juga pengetahuan social seperti nama2 bandara, Ibukota manca Negara, ibukota provinsi, dll. Kalo dulu pertanyaan wajib adalah penjelasan kenapa pesawat bisa terbang, dan bagian2 dari pesawat. Tapi gw 2x interview ga pernah ditanyain pertanyaan ini. Intinya penampilan usahakan serapih mungkin dan tunjukkan kepercayaan diri dan sapa interviewer dengan hangat juga jabat tangannya dengan mantap,  jawab pertanyaan dengan yakin.

Aeromedex

Nah, semenjak Batch XI ada persyaratan baru nih, sebagai calon PT Garuda Indonesia kita diharuskan melakukan AeroMedex di Garuda Sentra Medika Kemayoran, Item yang dicek kurang lebih sama dengan Medex di HatPen, Cuma ini ada USG dan juga ada Treadmill. Di USG akan dicek ada enggaknya usus buntu, atau hal lain. Sedangkan Treadmill untuk mengetes debar jantung, kita disuruh buka baju dan badan kita akan dipasangin berbagai macam kabel dan disuruh treadmill, berasa keren deh pokoknya kayak di film2. Selain itu ada tes Tambahan yaitu MMPI untuk melihat kejiwaan siswa, yang akan dites di Lakespra Cawang.

Beberapa hari setelahnya baru deh dapet email yang ditunggu2 yaitu Email kelulusan.

Congratulations you’re one step closer to be a real pilot! :D

First Post!

Hi everyone, we’re just started blogging to share our daily activity as a cadet pilot, until soon we become real pilot. so enjoy our posts. and feel free to share your comments, we’ll hit back as soon as we read it :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.